Pendidikan Seks bagi Anak Autisme

Pendidikan seks adalah upaya edukatif melalui interaksi orangtua dan anak dalam mengembangkan kemampuan anak secara optimal dalam memahami masalah seks sehingga terhindar dari hal negatif terkait seks. Pemberian edukasi sedini mungkin perlu dilakukan berdasarkan perkembangan dari usia anak.

Pendidikan seks merupakan
sarana bimbingan dalam mempersiapkan anak menjadi seorang individu (laki-laki
atau perempuan) yang berkepribadian matang, mantap, utuh dan mandiri di saat usia
dewasa terkait pikiran,
perasaan, sikap dan perilakunya dalam kehidupan bermasyarakat.

Pendidikan seks boleh diberikan asalkan disertai dengan dasar iman dan
pendidikan agama berkaitan dengan pemahaman moral pada anak dan remaja. Penegasan dalam pola pendidikan
seks yang utama adalah perbedaan antara laki-laki dan perempuan, baik secara
anatomi, fisiologi dan psikologi.

Pengetahuan
tentang seksualitas pada anak autisme memerlukan
persiapan terkait dengan pemahaman awal terhadap jenis kelaminnya. Contoh: seorang anak autisme laki-laki (13 tahun)
yang panik karena melihat penisnya menegang dan kemudian memukul-mukul penisnya. Pada kasus lain: kepanikan
orangtua saat memgetahui adanya perilaku seksual pada anak atau remaja dengan
autisme, misalnya: memegang payudara
guru atau memamerkan alat kelaminnya. Orangtua menjadi
cepat panik karena perbuatan yang dilakukan anaknya itu dianggap tidak menonoh atau membuat malu.

Ketidaktahuan dari anak autisme mengenai: perubahan bentuk badan, tumbuh rambut, payudara
membesar, penis menegang, mimpi basah dan menstruasi
mengakibatkan perilaku anak menjadi
uring-uringan atau tantrum (mengamuk) dan bad mood. Dalam pendidikan
seks, perlu diajarkan pemahaman awal
pada anak tersebut mengenai perawatan diri, misal: merapikan diri, mandi, gosok gigi atau
kumur-kumur dan memakai baju.

Kematangan organ seksual pada anak autisme seringkali tidak di ikuti dengan kemampuan interaksi sosial
dan kognitif pada individu tersebut. Orangtua menjadi cemas akan perlakuan yang didapat
pada anak autisme dari lingkungan sosial saat anaknya beranjak ke masa remaja. Pendidikan
seks dapat berupa penjelasan tentang perbedaan dasar dari anatomi tubuh anak,
remaja dan dewasa.

Kondisi
fisiologis yang dijumpai pada masa pubertas anak autisme, misalnya: keadaan labilitas emosional saat anak mulai
menstruasi pertama. Disamping itu, masalah edukasi mengenai seksualitas sendiri masih dianggap tabu di masyarakat. Pemberian pemahaman yang
terstruktur dan berkelanjutan di rumah perlu diberikan
terkait toilet training, misal: saat
bak, bab, dan cuci tangan setelah mendapatkan kotor di sekolah.

Contoh
pendidikan seks sederhana pada anak autisme, misal: perbedaan jenis kelamin laki-laki dan perempuan, perbedaan hal yang
bersifat privat (pribadi) dan publik (umum) pada bagian-bagian tubuh sesuai
tempat dan situasi. Apabila anak sering memegang kelaminnya maka diberikan kepatuhan mengenai perilaku tangan yang baik
melalui pemberian rewads (hadiah atau pujian) dan tidak bersifat menakut-nakuti.

Pengajaran mengenai
personal space yaitu pemberitahuan akan bagian tubuh yang boleh dan tidak boleh disentuh orang lain. Perhatian pada siapa
saja yang boleh menyentuh, memeluk, atau
mencium dirinya. Tidak bersikap memarahi apabila terdapat
perilaku seksual yang tidak sopan, tetapi
diberitahu cara dan perilaku yang baik apabila anak menyentuhkan alat kelamin
ke orang lain. Saat mengalami menstruasi, maka mengajarkan anak memakai dan membuang pembalut (panty liner).

Anak diajarkan
mengenai kebersihan alat kelamin, misal: bagaimana
membersihkan setelah bak, menstruasi, dan bab. Saat
mengalami jatuh cinta maka saat bertemu lawan jenis memberi salam,
mengatur jarak, boleh menyatakan cinta tetapi tidak di ulang-ulang.

Strategi dalam
pengajaran pendidikan seks, misal: saat mandi atau buang air kecil di kamar
mandi, orangtua bisa memberi pelajaran tentang apa itu alat kelamin, kegunaan,
mengapa perlu dilindungi dan tidak boleh dipamerkan serta memberi nasehat untuk
menjaganya dari tindakan iseng teman atau orang dewasa yang tak bertanggung
jawab. Aktivitas ini dapat diselingi dengan bermain air atau memandikan mainan
(boneka atau mobil) atau mandi bersama.

Perhatian
terhadap hal yang mengarah pada kekerasan seksual, misal: memberi pemahaman
kepada anak agar segera memberitahu guru atau orangtua apabila dadanya
(payudara) atau alat kelaminnya mau dipegang atau diisengi oleh orang dewasa
sebagai bentuk pelecehan seksual. Instruksi berupa secara langsung teriak, lari
atau kabur ketika terdapat aktivitas tangan atau perilaku orang dewasa yang
mengarah kepada tindakan mencium, memegang, memeluk, meremas, atau menyuruh
melakukan tindakan cabul (misal: oral seks). Bahkan dengan orang terdekat
sekalipun misal: om, kakek, ataupun pembantu. Melaporkan segera setiap hal atau
perbuatan tak senonoh yang membuatnya menjadi tidak nyaman atau takut akibat
perlakuan dari orang dewasa.

Pengajaran
perilaku sehat dapat berupa: membersihkan alat kelamin setelah buang air kecil
atau membersihkan setelah buang air besar sebagai bentuk latihan kemandirian.
Selain itu, melabelkan obyek berdasarkan fungsi, memakai baju dan celana, dan penggunaan anggota badan dalam aktivitas harian.

Penyampaian dapat
diberikan dengan bahasa anak yang disesuaikan tingkat komunikasi, kemampuan sosial, dan kemampuan atau perkembangan kognitif. Anak autisme diajarkan melalui kontak mata selama beberapa detik mengenai bagian
tubuhnya, kepatuhan akan kebersihan diri,
menunjuk bagian tubuh (pengenalan anatomi), hal konkret (misal: memakai baju), dan kegunaan anggota badan.

Selain itu dapat menggunakan kartu gambar atau bahasa isyarat dalam pemberian bimbingan atau menggunakan jari, mengingat kemampuan bicara yang terbatas pada anak autisme. Sebaiknya dalam memberikan pengajaran tentang seks pada anak, orangtua turut menyelipkan pesan yang disesuaikan dengan pendekatan agama masing-masing.

Dr Isa Multazam Noor, MSc, SpKJ(K) * Psikiater Anak di RSJ Dr Soeharto Heerdjan Grogol Jakarta Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *